BANDUNG — Di tengah gempuran tren budaya pop global, sebuah gerakan kebudayaan yang tak biasa justru sedang mencuri perhatian jutaan pasang mata netizen generasi Z di platform TikTok. Sekelompok mahasiswa Fakultas Humaniora dari salah satu universitas negeri di Bandung berhasil memviralkan platform komik digital unik yang mengawinkan alur cerita modern dengan teks penulisan menggunakan aksara daerah (Nusantara).
Gerakan yang diberi nama “AksaraHidup” ini berawal dari keresahan para mahasiswa sastra akan nasib manuskrip-manuskrip kuno yang kini hanya tersimpan berdebu di museum atau perpustakaan.
“Kami menyadari, menyuruh generasi muda membaca lembaran lontar atau naskah kuno secara langsung itu sulit sekali. Bahasanya berat, visualnya kurang menarik. Jadi, kenapa tidak kita bawa isi filosofinya ke medium yang mereka konsumsi setiap hari?” ujar Andini Putri (21), salah satu pencetus gerakan tersebut.
Plot Modern, Kemasan Tradisional
Berbeda dengan buku pelajaran bahasa daerah yang sering kali dianggap membosankan, komik digital garapan Andini dan timnya menyajikan genre yang sangat disukai anak muda hari ini: urban fantasy, detektif, hingga romansa sekolah. Namun, keunikannya terletak pada dialog dan narasi yang ditulis menggunakan tiga aksara daerah utama sebagai proyek awal, yaitu Aksara Jawa (Hanacaraka), Sunda (Ngalagena), dan Lontar (Aksara Lontara/Bugis).
Untuk mempermudah pembaca pemula, platform mereka menyediakan fitur hover text (teks melayang). Ketika pembaca mengetuk aksara tersebut, akan muncul transliterasi ke dalam huruf Latin beserta artinya dalam bahasa Indonesia.
Strategi ini terbukti sangat ampuh. Salah satu video unggahan mereka di TikTok yang menampilkan proses alih aksara pada karakter komik utama berhasil menembus 5 juta tayangan dalam waktu kurang dari 48 jam, memicu gelombang rasa penasaran dari netizen muda.
Menghidupkan Kembali Filosofi yang Hilang
Bukan sekadar estetika visual, isi dari cerita komik ini sebenarnya bersumber dari hasil riset mendalam terhadap filologi dan manuskrip kuno asli Indonesia. Mereka menyisipkan nilai-nilai luhur dan filsafat hidup Nusantara—seperti konsep kedamaian, kepemimpinan, dan hubungan manusia dengan alam—ke dalam konflik cerita modern yang relevan dengan kehidupan remaja masa kini.
Pakar Filologi, Prof. Dr. Herman Susilo, memberikan apresiasi luar biasa terhadap inovasi ini. Menurutnya, apa yang dilakukan para mahasiswa Humaniora ini adalah bentuk nyata dari revitalisasi budaya.
“Selama ini ada miskonsepsi bahwa ilmu humaniora itu kaku dan kuno. Mahasiswa-mahasiswa ini membuktikan sebaliknya. Mereka berhasil menurunkan ego akademis ke dalam budaya pop tanpa menghilangkan esensi nilai luhur yang ada di dalam naskah kuno tersebut,” ungkap Prof. Herman.
Demam Belajar Aksara di Kalangan Gen Z
Dampak dari viralnya komik digital ini mulai terasa secara masif. Di media sosial, kini muncul tren baru di mana para kreator konten muda saling menantang diri untuk menulis nama mereka atau kutipan harian (quotes) menggunakan aksara Jawa atau Sunda.
Kolom komentar di platform “AksaraHidup” pun dibanjiri tanggapan positif. Banyak remaja yang mengaku baru mengetahui bahwa aksara daerah di Indonesia memiliki bentuk visual yang sangat artistik, bahkan tak kalah keren dengan huruf Hangul Korea atau Kanji Jepang.
Ke depan, tim mahasiswa ini berencana untuk memperluas jangkauan mereka dengan memasukkan aksara daerah lain, seperti aksara Bali, Batak (Surat Batak), dan Kaganga. Mereka juga sedang menjajaki kolaborasi dengan beberapa ilustrator lokal untuk membuat versi cetak komik tersebut.
Gerakan ini menjadi bukti nyata bahwa di tangan generasi yang tepat, teknologi digital tidak akan menggerus kebudayaan lokal, melainkan menjadi jembatan emas yang menyelamatkan warisan leluhur dari kepunahan.

