YOGYAKARTA – Pendekatan ilmu humaniora di dalam ruang kelas kini dikemas dengan cara yang lebih membumi dan segar. Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI secara resmi meluncurkan program inovatif bertajuk “Sastrawan Masuk Sekolah”. Program ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara generasi muda dengan kekayaan literasi lokal yang mulai luntur tergerus zaman.
Melalui inisiatif ini, pihak balai menerjunkan puluhan sastrawan, budayawan, dan seniman lokal berpengalaman langsung ke berbagai sekolah menengah di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Selama satu semester ke depan, para maestro ini akan mendampingi siswa di ruang kelas untuk mengajarkan metode bercerita kontemporer (digital storytelling) yang bersumber dari babad sejarah dan dongeng kearifan lokal Nusantara.
Menangkal Dampak Negatif Disrupsi Digital
Langkah taktis ini diambil sebagai respons atas kekhawatiran global mengenai memudarnya ketertarikan generasi alfa dan Z terhadap nilai-nilai tradisi. Budaya membaca teks sejarah yang tebal dan kaku kerap dinilai membosankan oleh para siswa.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, Dra. Endah Budi Heryani, menegaskan bahwa gempuran arus informasi di media sosial harus diimbangi dengan konten-konten lokal yang berkualitas dan mengakar.
“Tujuannya sangat jelas, agar generasi muda kita tidak kehilangan kompas identitas budayanya di tengah masifnya gempuran globalisasi dan digitalisasi. Kami tidak melarang mereka bermain gawai, justru kami ingin gawai tersebut diisi oleh narasi-narasi sejarah lokal yang mereka kemas ulang dengan bahasa mereka sendiri,” tutur Endah saat membuka peluncuran program di Yogyakarta.
Mengubah Tafsir Babad Menjadi Konten Interaktif
Dalam pelaksanaannya, program Sastrawan Masuk Sekolah tidak akan menggunakan metode ceramah satu arah. Para sastrawan yang bertugas telah dibekali formula khusus untuk mentransformasikan teks kuno seperti Babad Tanah Jawi atau serat-serat klasik menjadi materi yang relevan bagi anak muda.
Beberapa poin utama dalam silabus program ini meliputi:
- Dekonstruksi Teks Klasik: Membedah nilai moral dan heroisme dalam tokoh babad dengan analogi kehidupan modern.
- Teknik Memikat Audiens (Storytelling): Melatih vokal, ekspresi, dan penulisan naskah drama pendek agar cerita sejarah terdengar dramatis dan hidup.
- Alih Wahana Digital: Mengonversi naskah tradisional ke dalam bentuk podcast, komik digital, video pendek, hingga pertunjukan teater mini.
Harapan Besar untuk Kurikulum Masa Depan
Program ini disambut baik oleh komunitas pendidik dan pengamat budaya di Yogyakarta. Dengan meleburnya para praktisi sastra ke dalam ekosistem sekolah, pelajaran humaniora seperti Sejarah dan Bahasa Indonesia tidak lagi sekadar menjadi hafalan tahun dan nama tokoh demi mengejar nilai ujian.
BPK Wilayah XI berharap, jika gelombang pertama ini menunjukkan hasil yang signifikan pada peningkatan kreativitas dan kelestarian bahasa daerah siswa, program Sastrawan Masuk Sekolah dapat diadopsi secara nasional sebagai bagian dari penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka.

