TROWULAN – Pendekatan ilmu humaniora kini dikemas dengan cara yang jauh lebih interaktif dan memikat bagi generasi muda. Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI hari ini resmi meluncurkan program inovatif bertajuk “Arkeolog Masuk Sekolah”. Melalui program ini, para siswa tidak lagi sekadar menghafal tahun dan nama tokoh dari buku teks, melainkan diajak langsung memegang, meneliti, dan mendiskusikan sejarah Nusantara menggunakan replika artefak purbakala yang dibawa langsung ke dalam ruang kelas.
Peluncuran perdana program ini dilangsungkan di kawasan situs bersejarah Trowulan, Mojokerto, yang dulunya merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit. Inisiatif ini diharapkan mampu mengikis stigma bahwa pelajaran sejarah adalah materi yang menjemukan dan kaku.
Mengubah Kelas Menjadi Laboratorium Arkeologi Mini
Dalam pelaksanaan program ini, para arkeolog profesional bertindak selaku mentor. Mereka mengubah ruang kelas konvensional menjadi laboratorium ekskavasi dan analisis mini.
Para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil dan dibekali dengan peralatan dasar arkeolog, seperti kuas, kaca pembesar, dan sarung tangan. BPK menyediakan berbagai replika artefak yang dibuat sangat presisi menyerupai aslinya, mulai dari:
- Fragmen Terakota: Replika celengan babi tanah liat kuno dan hiasan atap rumah era Majapahit.
- Prasasti Mini: Tiruan lempengan tembaga beraksara Jawa Kuno untuk belajar membaca aksara masa lalu.
- Mata Uang Kuno: Replika koin Gobog yang digunakan dalam sistem perdagangan Nusantara abad ke-14.
“Selama ini anak-anak hanya bisa melihat benda purbakala di balik etalase kaca museum yang dingin, di mana ada tulisan ‘Dilarang Menyentuh’. Lewat program ini, kami memecahkan kaca tersebut. Kami ingin mereka merasakan teksturnya, meneliti detail ukirannya, dan membangun imajinasi historis dari sentuhan itu,” ujar Kepala BPK Wilayah XI dalam sambutannya hari ini.
Metode Belajar: Berpikir Kritis ala Detektif Sejarah
Tidak hanya sekadar menyentuh objek, para siswa juga ditantang untuk berpikir kritis menggunakan metode ilmiah arkeologi yang disederhanakan. Mereka diminta untuk mengisi “Logbook Temuan” yang berisi analisis mandiri mengenai:
- Dimensi fisik: Mengukur berat, diameter, dan mencatat material penyusun objek.
- Analisis Fungsi: Mendiskusikan apa kegunaan benda tersebut pada masanya berdasarkan petunjuk visual yang ada.
- Koneksi Budaya: Mengaitkan fungsi benda kuno tersebut dengan kehidupan sosial masyarakat modern saat ini.
Pendekatan ini terbukti memicu antusiasme yang tinggi. Para siswa tampak aktif berdebat dan mengajukan pertanyaan spekulatif yang mendalam, sebuah pemandangan yang jarang ditemui dalam metode ceramah satu arah.
Komitmen Perluasan Jangkauan ke Sekolah Terpencil
Setelah sukses diujicobakan di Trowulan, BPK menargetkan untuk membawa program “Arkeolog Masuk Sekolah” ke ratusan sekolah lain di berbagai daerah, termasuk wilayah-wilayah yang jauh dari akses museum. BPK juga berencana menyediakan kotak portable berisi replika artefak beserta modul panduannya agar dapat dipinjam oleh guru-guru sejarah secara mandiri.
Melalui investasi pada pendidikan humaniora yang interaktif ini, pemerintah berharap dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki akar identitas budaya dan rasa bangga yang kokoh terhadap sejarah bangsanya.

