YOGYAKARTA – Pendekatan ilmu humaniora di ruang kelas kini dikemas secara jauh lebih kreatif dan interaktif agar relevan bagi generasi Z. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., secara resmi mengumumkan peluncuran gerakan nasional bertajuk “Sastra Masuk Kurikulum”.
Sebagai langkah awal, program ini akan menerjunkan ratusan sastrawan muda, pegiat literasi, dan seniman lokal ke berbagai sekolah pinggiran serta wilayah sub-urban. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya masif untuk menyelamatkan puluhan bahasa daerah di Indonesia yang saat ini posisinya mulai terancam punah akibat penutur alaminya yang terus menyusut.
Mengemas Tradisi Lewat Media Kontemporer
Tantangan terbesar dalam mengajarkan bahasa dan sastra daerah kepada generasi muda saat ini adalah stigma “kuno” atau membosankan. Metode hafalan struktur bahasa dinilai kurang efektif memantik minat siswa. Oleh karena itu, gerakan ini membawa angin baru dengan mengawinkan unsur kearifan lokal (local wisdom) dan tren teknologi digital yang digandrungi remaja.
Alih-alih sekadar meminta siswa membaca teks babad atau dongeng lama, para sastrawan yang diterjunkan akan membimbing siswa untuk memproduksi konten kreatif mereka sendiri.
“Kami menerjunkan para pegiat literasi dan sastrawan untuk mengajar infografis dan podcast (siniar) berbasis cerita rakyat. Ini cara kami menyelamatkan bahasa daerah yang mulai punah melalui jalur pendidikan formal,” tutur Prof. Aminudin Aziz di sela-sela peluncuran program di Yogyakarta.
Dengan mengubah cerita tutur atau mitos lokal menjadi naskah podcast berbahasa daerah atau komik digital berbentuk infografis, siswa secara tidak langsung dipaksa untuk meriset, memahami kosakata lama, dan menggunakannya dalam konteks modern.
Fokus pada Sekolah Pinggiran dan Daerah Afirmasi
Pemilihan sekolah-sekolah di wilayah pinggiran dan sub-urban didasarkan pada pemetaan bahwa wilayah tersebut merupakan zona kritis transisi kebahasaan. Anak-anak di wilayah ini sering kali berada di persimpangan antara modernisasi kota dan tradisi desa, sehingga kecenderungan meninggalkan bahasa ibu jauh lebih tinggi.
Melalui program ini, sekolah-sekolah tersebut akan mendapatkan intervensi berupa:
- Mentoring Kreatif Bersama Sastrawan: Sesi kelas khusus di mana siswa belajar teknik penulisan kreatif, penciptaan karakter, dan vokal untuk media digital.
- Penyediaan Bahan Bacaan Adaptif: Pendistribusian buku-buku sastra daerah yang telah diilustrasikan ulang agar lebih memikat secara visual.
- Festival Digital Bahasa Ibu: Sebagai puncak program, karya-karya terbaik siswa dalam bentuk video pendek, infografis, dan audio podcast akan dikompetisikan di tingkat nasional.
Investasi Jangka Panjang Identitas Bangsa
Badan Bahasa berharap gerakan “Sastra Masuk Kurikulum” tidak berhenti sebagai proyek seremonial semata. Output digital yang dihasilkan oleh para siswa nantinya akan diarsipkan sebagai aset budaya sekaligus materi ajar terbuka yang bisa diakses oleh sekolah-sekolah lain di seluruh Indonesia.
Dengan menyuntikkan kreativitas modern ke dalam nadi pendidikan humaniora, pemerintah optimistis bahasa daerah tidak akan berakhir sebagai catatan di museum, melainkan tetap hidup, dinamis, dan bangga dituturkan oleh generasi masa depan.

