DENPASAR — Di tengah gempuran modernisasi dan digitalisasi global, sekelompok mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana mengambil langkah progresif untuk menyelamatkan warisan leluhur Bali. Melalui program Inkubasi Budaya Kampus, mereka berhasil mendigitalisasi, menerjemahkan, dan mengarsipkan ratusan manuskrip lontar kuno yang sebelumnya terancam rusak dimakan usia.
Langkah ini bermula dari keprihatinan terhadap fisik daun lontar yang mulai rapuh di berbagai griya (rumah adat) dan museum daerah. Banyak dari dokumen berharga tersebut yang menyimpan catatan penting tentang obat-obatan tradisional (usadha), tata surya (wariga), filsafat, hingga sastra tinggi yang belum sempat terbaca oleh generasi muda.
Menjembatani Kesenjangan Generasi Lewat Platform ‘Arsip Lontar Digital’
Tantangan terbesar dalam mempelajari manuskrip kuno adalah aksara Bali dan bahasa Jawa Kuno (Kawi) yang tidak lagi populer di kalangan Gen Z dan Alfa. Menyadari hal tersebut, tim mahasiswa humaniora ini tidak sekadar memotret lembaran lontar, melainkan membangun sebuah platform digital interaktif.
Proses digitalisasi ini melibatkan beberapa tahapan krusial:
- Pembersihan & Konservasi Fisik: Membersihkan daun lontar menggunakan minyak sereh khusus agar tulisan kembali jelas dan awet.
- Pemotretan Makro (High-Resolution): Mengambil gambar setiap bilah lontar secara detail agar teks dapat terbaca jelas di layar gawai.
- Alih Aksara & Alih Bahasa: Menerjemahkan aksara Bali/Kawi ke dalam alfabet (bhs. Indonesia dan Inggris) agar maknanya bisa dipahami oleh masyarakat luas di seluruh dunia.
“Kami tidak ingin lontar hanya menjadi benda keramat yang disimpan di lemari gelap. Lontar adalah ilmu pengetahuan. Dengan memasukkannya ke dalam platform digital, anak muda sekarang bisa membaca isi ramuan obat tradisional atau cerita lokal semudah mereka menirukan tren di media sosial,” ujar I Putu Gede Satria, ketua tim proyek tersebut.
Dukungan Penuh Pihak Kampus dan Tokoh Adat
Proyek yang berjalan selama enam bulan terakhir ini mendapat apresiasi tinggi dari Dekanat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana serta para tokoh adat di Bali. Pihak universitas bahkan berencana mengintegrasikan platform ini ke dalam pangkalan data (database) perpustakaan pusat agar dapat diakses oleh peneliti internasional.
Melalui inkubasi budaya ini, mahasiswa membuktikan bahwa ilmu humaniora tidaklah kaku atau tertinggal zaman. Sebaliknya, ilmu budaya justru mampu mengadopsi teknologi mutakhir untuk memastikan identitas dan nilai-nilai lokal tetap hidup dan relevan di masa depan.
Saat ini, platform tersebut sudah mengudara dalam versi beta dan telah berhasil mengarsipkan sekitar 150 cakep (ikat) lontar dari berbagai wilayah di Bali dan Lombok. Target berikutnya adalah memperluas jangkauan ke manuskrip-manuskrip milik koleksi pribadi warga yang belum terawat dengan baik.

