YOGYAKARTA — Kajian humaniora di Indonesia kini memasuki babak baru yang krusial. Para akademisi, filolog, dan komunitas pencinta budaya lokal tengah mempercepat proyek digitalisasi ratusan manuskrip kuno berbahan daun lontar dan kertas daluang. Langkah ini diambil guna menyelamatkan teks-teks berharga tentang filsafat hidup, pengobatan tradisional, dan sejarah nusantara dari kerusakan fisik akibat usia.
Yang menarik dari perkembangan tahun ini adalah keterlibatan teknologi Artificial Intelligence (AI). Penggunaan algoritma Optical Character Recognition (OCR) yang telah dilatih khusus kini mampu membaca dan menerjemahkan aksara Jawa kuno, Bali, dan Bugis (Lontara) ke dalam teks digital Latin secara otomatis dengan akurasi yang terus meningkat.
Menghidupkan Kembali Nilai Budaya dalam Ruang Digital
Para peneliti humaniora menegaskan bahwa digitalisasi ini bukan sekadar upaya memindahkan gambar fisik manuskrip ke dalam komputer. Lebih dari itu, tujuannya adalah membongkar isi teks kuno agar nilai-nilainya dapat diakses, dipahami, dan diterapkan oleh generasi muda (Gen Z dan Alpha) dalam menjawab krisis moralitas modern.
Sebagai contoh, ajaran epos lokal mengenai keselarasan alam dan manusia kini diolah kembali menjadi konten kreatif, komik digital, hingga materi diskusi di media sosial. Langkah ini dinilai efektif untuk mendekatkan ilmu humaniora—yang sering dianggap kaku dan berjarak—menjadi lebih membumi serta relevan dengan dinamika sosial hari ini.
Tantangan Etika dan Kehilangan Konteks Rasa
Kendati pemanfaatan teknologi digital dan AI sangat membantu proses penyelamatan data, para sejarawan dan budayawan memberikan catatan kritis. Mereka mengingatkan adanya risiko kehilangan “rasa” dan konteks mendalam jika penerjemahan karya humaniora sepenuhnya diserahkan kepada mesin algoritma.
Penerjemahan teks sastra kuno yang sarat akan metafora, rima, dan rasa bahasa tetap membutuhkan sentuhan pemikiran manusia (human touch) yang memahami latar belakang sosiologis saat teks tersebut ditulis ratusan tahun lalu. Oleh karena itu, kolaborasi harmonis antara pakar humaniora dan ahli teknologi menjadi kunci utama keberhasilan proyek ini.
Refleksi Humaniora: Ilmu humaniora mengajarkan kita tentang apa artinya menjadi manusia. Di tengah kepungan teknologi yang serbacepat, menjaga koneksi dengan akar budaya dan sejarah melalui digitalisasi adalah benteng pertahanan terbaik agar bangsa ini tidak kehilangan identitasnya.

