DEPOK — Universitas Indonesia (UI) menggelar Seminar Internasional bertajuk “Global Climate Shift and the Future of Food Security” di Balai Sidang UI, Depok. Acara yang berlangsung hibrida ini mempertemukan ratusan pakar lingkungan global, akademisi, serta pembuat kebijakan untuk merumuskan solusi konkret menghadapi ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim yang kian tak menentu.
Rektor Universitas Indonesia dalam pembukaannya menegaskan bahwa sektor pertanian Indonesia saat ini berada di garis depan yang paling rentan terdampak oleh anomali cuaca. Fenomena kemarau berkepanjangan yang diikuti oleh intensitas hujan ekstrem telah mengacaukan kalender tanam tradisional dan memicu gagal panen di berbagai daerah lumbung padi nasional.
“Kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading yang mencatat data kerusakan lingkungan. Kita harus hadir membawa cetak biru strategi yang bisa dieksekusi oleh pemerintah dan dinikmati langsung oleh para petani kita,” ujar Rektor UI di hadapan para delegasi, Kamis (2/7).
Menghadirkan Pakar Global dan Pembuat Kebijakan
Seminar ini menghadirkan pembicara utama dari Food and Agriculture Organization (FAO) serta panelis ahli dari kawasan Asia Tenggara. Salah satu poin krusial yang dibahas adalah proyeksi penurunan produktivitas komoditas pangan utama Asia hingga 15% dalam dua dekade ke depan jika pola mitigasi iklim tidak segera diubah.
Turut hadir perwakilan dari Kementerian Pertanian dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai pembuat kebijakan. Kehadiran mereka memastikan bahwa adopsi ilmu pengetahuan dari seminar ini dapat langsung diselaraskan dengan program strategis nasional.
Rekomendasi Strategis: Kampus sebagai Pusat Riset Benih Unggul
Di akhir sesi, seminar ini menghasilkan dokumen rekomendasi strategis yang akan diserahkan kepada pemerintah. Salah satu poin paling progresif adalah mendorong transformasi Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan (LPTK) dan universitas di seluruh Indonesia untuk menjadi Pusat Riset Eksperimental Benih Unggul.
Melalui rekomendasi ini, kampus-kampus di daerah didorong untuk membiakkan variat tanaman lokal yang memiliki karakteristik khusus:
- Varietas Tahan Kekeringan (Drought-Tolerant): Benih yang tetap adaptif dan menghasilkan bulir optimal meski minim pasokan air.
- Varietas Tahan Genangan (Submergence-Tolerant): Padi yang mampu bertahan hidup dan tidak membusuk meski terendam banjir luapan sungai selama beberapa minggu.
- Akurasi Berbasis Kecerdasan Buatan: Memanfaatkan teknologi agrikultur presisi (smart farming) berbasis IoT untuk memantau kesehatan tanah di lahan laboratorium kampus sebelum disebarkan ke masyarakat.
Kolaborasi Lintas Sektor
Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam UI menambahkan bahwa implementasi hasil riset ini nantinya tidak akan berhasil tanpa adanya skema pendanaan yang kuat dan hilirisasi industri.
“Kami merekomendasikan pemerintah untuk membuat regulasi yang memudahkan insentif pajak bagi perusahaan swasta yang mau mendanai riset benih adaptif di universitas. Ketika benih unggul ini siap, distribusi kepada kelompok tani harus disubsidi penuh pada tahap awal,” jelasnya.
Seminar internasional ini diharapkan menjadi pemantik bagi gerakan riset agrikultur yang lebih masif di lingkungan universitas Indonesia, sekaligus memastikan piring nasi masyarakat tetap terisi aman di tengah kepungan krisis iklim global.

