JAKARTA — Dunia pendidikan Indonesia mencatat sejarah baru dalam pemanfaatan teknologi. Seminar pendidikan nasional bertajuk “The Future of Teaching: Master the AI” yang digelar secara daring pada Kamis (2/7) sukses memecahkan rekor sebagai seminar guru dengan jumlah peserta terbesar tahun ini.
Tercatat sebanyak 10.000 guru, mulai dari wilayah perkotaan hingga pelosok daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), antusias memadati ruang sidang virtual demi menguasai teknologi Kecerdasan Buatan (AI).
Solusi Konkret untuk Administrasi yang Menumpuk
Keluhan klasik para guru mengenai habisnya waktu untuk urusan administrasi ketimbang mengajar di kelas tampaknya mulai menemukan titik terang. Seminar ini secara khusus membedah seni memberikan perintah pada AI (prompt engineering) untuk membantu tugas-tugas domestik keguruan.
“Selama ini guru habis energinya untuk membuat RPP, modul ajar, dan analisis penilaian yang berlembar-lembar. Melalui seminar ini, kita ingin membalikkan keadaan. AI yang bekerja untuk administrasi, guru fokus pada esensi memanusiakan manusia di kelas,” ujar Ketua Penyelenggara, Dr. Ahmad Sofyan.
Dalam sesi praktis, para peserta diajarkan cara memformulasikan prompt (perintah) yang spesifik ke dalam sistem AI untuk menghasilkan:
- Modul ajar berbasis Kurikulum Merdeka dalam hitungan menit.
- Bank soal yang bervariasi berdasarkan tingkat kemampuan (teaching at the right level).
- Format penilaian otomatis yang objektif.
Hadirkan Ahli Teknologi Dunia
Tidak tanggung-tanggung, seminar ini menghadirkan pakar edukasi teknologi global dari Silicon Valley, Dr. Elena Rostova, yang membagikan pandangannya mengenai pergeseran peran guru di era AI.
Menurut Elena, AI tidak akan pernah bisa menggantikan empati, kasih sayang, dan sentuhan moral seorang guru. Namun, “Guru yang menggunakan AI akan menggantikan guru yang tidak menggunakannya.”
“AI adalah asisten super yang bersedia bekerja 24 jam untuk Anda. Jika para guru di Indonesia mampu mengoptimalkannya untuk membuat bahan ajar yang interaktif, maka ketimpangan kualitas pendidikan antara kota besar dan daerah terpencil bisa dipangkas lebih cepat,” papar Elena dalam sesi materinya.
Antusiasme dari Ujung Negeri
Meskipun dilaksanakan secara digital, kendala geografis tidak menyurutkan semangat para pendidik. Berbagai cerita haru dan inspiratif muncul di kolom komentar sepanjang acara.
Salah satunya datang dari Mariana, seorang guru sekolah dasar dari pedalaman Papua yang rela mencari sinyal ke bukit demi bisa menyimak materi.
“Awalnya saya takut AI akan menggeser peran kami. Tapi setelah ikut seminar ini, saya sadar AI justru membebaskan saya dari belenggu dokumen. Sekarang saya punya waktu lebih banyak untuk mendengarkan cerita anak-anak murid saya,” ungkap Mariana lewat pesan singkat di sela-sela acara.
Dengan suksesnya seminar ini, pihak penyelenggara bersama Kementerian Pendidikan berkomitmen untuk menindaklanjutinya dengan program pendampingan intensif. Targetnya, pada akhir tahun ini, minimal ada 50.000 “Guru Penggerak AI” yang siap menularkan ilmunya ke sekolah-sekolah di seluruh penjuru Nusantara.
Apakah pengembangan berita ini sudah sesuai dengan sudut pandang dan kedalaman informasi yang Anda harapkan?

