JAKARTA – Menyambut persiapan tahun ajaran baru, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengambil langkah progresif untuk memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka. Pemerintah mengumumkan bakal menambah struktur projek penguatan profil pelajar Pancasila (P5) melalui skema wajib pengolahan limbah di lingkungan satuan pendidikan.
Kebijakan ini dirancang untuk merespons kritik atas metode pembelajaran konvensional yang dinilai terlalu teoritis. Dengan melibatkan siswa secara langsung dalam tata kelola sampah di sekolah, institusi pendidikan diharapkan mampu bertransformasi menjadi laboratorium lingkungan yang hidup dan aplikatif.
Pendidikan yang Membumi dan Berdampak Nyata
Dalam konferensi pers yang digelar hari ini di Gedung Kemendikbudristek, Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikbudristek, Dr. Yogi Anggraena, M.Si., menegaskan bahwa perubahan ini adalah upaya konkret intervensi krisis iklim global melalui jalur edukasi formal.
Menurut Yogi, pembentukan karakter generasi muda tidak bisa lagi dibatasi oleh dinding-dinding ruang kelas.
“Kami ingin pendidikan tidak sekadar teks di buku, tetapi membangun karakter peka lingkungan yang nyata sejak dini. Selama ini anak-anak tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu buruk, tetapi mereka jarang diajak berpikir kritis tentang ke mana sampah plastik bekas jajan mereka bermuara dan bagaimana cara mengolahnya kembali,” ujar Yogi kepada awak media.
Mekanisme Penerapan: Dari Pemilahan hingga Ekonomi Sirkular
Projek wajib pengolahan limbah sekolah ini nantinya akan diintegrasikan secara fleksibel ke dalam kalender akademik di tingkat dasar hingga menengah. Kemendikbudristek telah menyusun panduan teknis yang mencakup tiga tahapan utama pembelajaran berbasis projek ini:
- Audit Sampah Mandiri: Siswa diajak melakukan pemetaan dan menghitung volume sampah harian yang dihasilkan oleh ekosistem sekolah mereka sendiri.
- Sistem Pemilahan Terstruktur: Edukasi berbasis praktik untuk memisahkan sampah organik, anorganik, dan limbah B3 sekolah secara disiplin.
- Inovasi Daur Ulang & Sirkular: Proyek kelompok di mana siswa mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos untuk taman sekolah, atau menyulap plastik menjadi produk guna ulang yang bernilai ekonomi.
Fleksibilitas untuk Sekolah Minim Fasilitas
Menanggapi kekhawatiran mengenai kesiapan sarana prasarana sekolah di daerah, Yogi Anggraena memastikan bahwa kurikulum ini tidak akan membebani pihak sekolah secara finansial. Modul yang disediakan pemerintah bersifat adaptif dan mengutamakan pemanfaatan potensi lokal.
“Sekolah tidak perlu membeli mesin pencacah plastik yang mahal untuk memulai projek ini. Esensinya adalah perubahan perilaku dan cara berpikir. Memulai dari hal sederhana seperti membuat sistem zonasi tempat sampah yang rapi atau mengolah sisa makanan kantin menjadi kompos, itu sudah menjadi bagian dari pencapaian target kurikulum ini,” pungkas Yogi.
Melalui langkah ini, Kemendikbudristek optimistis tahun ajaran baru tidak hanya melahirkan siswa yang cerdas secara kognitif, melainkan generasi baru yang memiliki kedekatan emosional dan tanggung jawab penuh terhadap kelestarian bumi di masa depan.

