SEMARANG – Guna menjawab tantangan industri masa depan dan mempercepat era elektrifikasi kendaraan, Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Semarang hari ini resmi memulai Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Standardisasi Khusus bagi para instruktur dan guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang otomotif.
Pelatihan intensif yang dirancang selama dua pekan ini berfokus penuh pada penguasaan teknologi mutakhir, metode perawatan (maintenance), serta aspek krusial sistem keamanan (safety system) pada mesin kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa kurikulum dan kompetensi pengajar di dunia pendidikan vokasi sejalan dengan masifnya perkembangan industri hijau global.
Menyelaraskan Kompetensi Pendidik dengan Dunia Industri
Dalam sambutan pembukaannya, Kepala BBPVP Semarang, Heru Wibowo, S.Sos., M.M., menegaskan bahwa transformasi industri otomotif dari kendaraan konvensional (berbahan bakar fosil) ke kendaraan listrik menuntut kesiapan lini pendidik sebagai garda terdepan pencetak Sumber Daya Manusia (SDM).
“Kita tidak bisa lagi menunda. Sekolah-sekolah kejuruan kita harus diisi oleh para instruktur yang tidak hanya paham teori, tetapi juga menguasai standar operasional industri teknologi tinggi. Melalui diklat standardisasi ini, Kementerian Ketenagakerjaan berkomitmen menjembatani gap (kesenjangan) kompetensi tersebut agar lulusan SMK nantinya siap langsung diserap oleh industri EV,” ujar Heru Wibowo di hadapan para peserta diklat, Senin (6/7).
Fokus Utama: Keselamatan Kerja dan Diagnosis Baterai
Pelatihan ini melibatkan instruktur ahli dan praktisi industri otomotif global sebagai pemateri utama. Salah satu narasumber teknis yang dihadirkan, Dr. Ir. Susanto Putro, M.T., seorang pakar sistem mekatronika kendaraan, menjelaskan bahwa materi diklat kali ini menitikberatkan pada penanganan komponen tegangan tinggi (high-voltage components).
Menurut Susanto, mekanik kendaraan listrik menghadapi risiko kerja yang sangat berbeda dengan mekanik mesin bensin atau diesel tradisional.
“Fokus utama yang kami tekankan kepada para guru SMK ini adalah prosedur keselamatan kerja (K3) pada fasilitas pemeliharaan EV. Mereka dilatih melakukan diagnosis kerusakan pada komponen utama seperti baterai traksi (traction battery), motor BLDC, inverter, hingga sistem kontrol elektronik (ECU). Memahami diagram sirkuit dan cara kerja baterai bertegangan tinggi secara aman adalah standar mutlak di industri saat ini,” jelas Susanto saat mendampingi sesi praktik di laboratorium bengkel otomotif BBPVP.
Membentuk Ekosistem Vokasi yang Berkelanjutan
Program diklat ini diikuti oleh puluhan perwakilan instruktur dan guru SMK otomotif terpilih dari berbagai wilayah. Pasca-pelatihan, para peserta diwajibkan mengikuti uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat standardisasi keahlian teknologi kendaraan listrik yang diakui secara nasional.
Dengan adanya standardisasi ini, diharapkan para guru dapat mengadopsi modul pengajaran baru di sekolah masing-masing, memodifikasi fasilitas praktik siswa agar ramah teknologi EV, serta melahirkan generasi teknisi masa depan yang kompeten, aman, dan siap membawa Indonesia bersaing di era mobilitas bersih.

