BANDUNG – Kebiasaan para siswa mencoret-coret lembar belakang buku pelajaran saat merasa jenuh di kelas kini tidak lagi dipandang sebelah mata. Mulai semester ini, hobi tersembunyi tersebut diarahkan menjadi jalur prestasi nyata melalui peresmian ekstrakurikuler (ekskul) Visual Art & Digital Comic Strip di sejumlah sekolah menengah atas di wilayah Jawa Barat.
Langkah inovatif ini diinisiasi oleh Komunitas Komik Indonesia (KKI) yang berkomitmen untuk membawa keterampilan menggambar tradisional ke ranah industri kreatif modern. Mengingat pesatnya pertumbuhan pasar konten visual global, sekolah kini dipandang sebagai hulu yang paling potensial untuk menjaring talenta muda berbakat.
Mengubah Corat-Coret Menjadi Portofolio Profesional
Ilustrator profesional sekaligus Ketua Komunitas Komik Indonesia, Chris Lie, menyatakan bahwa program ini sengaja dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara kesenangan murni (hobi) dan kebutuhan industri visual yang makin kompleks. Pihaknya telah bekerja sama dengan beberapa SMA percontohan untuk menyusun kurikulum ekskul yang tidak hanya mengajarkan teknik menggambar, tetapi juga penguasaan teknologi digital.
“Hobi jika diarahkan dengan metode yang berstruktur dan mentor yang tepat, bisa menjelma menjadi portofolio karier industri kreatif yang sangat menjanjikan bagi siswa sebelum mereka bahkan lulus sekolah,” ujar Chris Lie saat meresmikan peluncuran program di Bandung.
Menurut Chris, siswa selama ini sering kali bingung ke mana harus menyalurkan bakat menggambar mereka. Akibatnya, potensi besar tersebut menguap begitu saja setelah lulus sekolah. Melalui kurikulum ekskul ini, siswa diajarkan dasar-dasar storyboarding (papan cerita), anatomi karakter, pencahayaan, hingga teknik pewarnaan digital menggunakan pen tablet dan aplikasi standar industri.
Kurikulum Berbasis Industri Kreatif
Program ekskul ini dirancang agar adaptif terhadap perkembangan zaman. Adapun peta jalan pembelajaran yang akan dilalui para siswa di antaranya:
- Pondasi Visual & Karakter: Penguatan dasar menggambar ekspresi, anatomi, dan pembuatan latar belakang (background).
- Narrative Storytelling: Teknik menyusun alur cerita yang padat, jenaka, atau mendalam untuk format komik strip 4-panel.
- Digital Tools Literacy: Pengenalan dan pemanfaatan perangkat lunak desain digital komparatif untuk efisiensi produksi karya.
- Komersialisasi Karya: Edukasi dasar mengenai hak kekayaan intelektual (HKI) serta cara membangun personal branding di platform portofolio digital seperti ArtStation atau Webtoon.
Membangun Masa Depan Kreatif Indonesia
Pihak sekolah menyambut positif kerja sama ini. Dengan masuknya Visual Art sebagai ekstrakurikuler resmi, nilai evaluasi proyek akhir siswa—yang berupa komik digital utuh—dapat dicatatkan sebagai komponen prestasi non-akademik di dalam rapor Kurikulum Merdeka.
Melalui langkah awal di beberapa sekolah menengah ini, Komunitas Komik Indonesia berharap gerakan ini dapat direplikasi secara nasional. Indonesia tidak pernah kekurangan anak-anak kreatif; yang mereka butuhkan adalah ruang kelas yang memvalidasi imajinasi mereka dan mengubah coretan pensil acak menjadi aset masa depan yang bernilai tinggi.

