BANDUNG – Universitas pendidikan terkemuka di Bandung hari ini menggelar seminar nasional bertajuk “Overcoming Digital Fatigue in Classrooms”. Seminar yang berlangsung di Aula Utama kampus tersebut menghadirkan para pakar edukasi, praktisi teknologi pendidikan, dan psikolog untuk merumuskan metode pembelajaran hibrida yang seimbang agar tidak memicu kejenuhan mental (digital fatigue) pada guru dan murid.
Fenomena kejenuhan digital belakangan ini menjadi perhatian serius setelah adaptasi teknologi pascapandemi diadopsi secara masif. Durasi menatap layar yang terlalu lama serta tumpukan tugas digital dinilai mulai mengikis motivasi belajar intrinsik para siswa dan memicu burnout pada tenaga pendidik.
Alarm Bahaya “Digital Burnout” di Ruang Kelas
Dalam sesi pertama, Dr. Setiawan Mandala, M.Pd., seorang pakar kurikulum dan teknologi pendidikan yang menjadi pembicara utama, memaparkan data mengenai penurunan fokus siswa akibat paparan layar yang berlebihan.
Menurut Dr. Setiawan, teknologi seharusnya menjadi akselerator, bukan beban baru dalam ekosistem sekolah.
“Banyak sekolah terjebak dalam miskonsepsi bahwa mendigitalisasi semua hal berarti kemajuan. Padahal, memindahkan beban teks fisik ke layar gawai secara mentah-mentah justru memicu kelelahan kognitif. Kita butuh kurikulum hibrida yang memiliki ‘napas’—kapan harus interaktif digital, dan kapan harus interaksi fisik,” ujar Dr. Setiawan.
Pendekatan Psikologis: Menjaga Kewarasan Mental Pendidik
Tidak hanya siswa, para guru juga berada di garis depan riset kejenuhan ini. Prof. Dr. Anastasia Rini, M.Psi., psikolog anak dan remaja yang turut menjadi narasumber, menyoroti beban kerja administratif digital guru yang sering kali meluap hingga luar jam kerja resmi.
Prof. Anastasia menawarkan konsep “Digital Detoxing Management” yang bisa diterapkan oleh manajemen sekolah:
- Pembatasan Jam Notifikasi: Menetapkan batas waktu pengiriman tugas atau koordinasi kelas digital maksimal pukul 17.00 WIB.
- Metode Blended-Mindfulness: Menyisipkan jeda 5 menit tanpa gawai (screenless break) di tengah-tengah sesi pelajaran hibrida.
- Ruang Refleksi Fisik: Mengembalikan ruang kelas sebagai tempat diskusi komunal, bukan sekadar tempat membaca instruksi dari proyektor.
Sinergi Kurikulum Menuju “Smart Classroom” yang Sehat
Di akhir acara, Rektor universitas selaku penyelenggara menegaskan bahwa rekomendasi dari seminar nasional ini akan disusun menjadi sebuah draf panduan resmi. Dokumen tersebut nantinya akan diserahkan kepada Dinas Pendidikan agar dapat diadopsi oleh sekolah-sekolah di Jawa Barat sebagai standardisasi baru dalam menjaga kesehatan mental komunitas sekolah di era digital.

