Bandung – Industri teknologi pendidikan (EdTech) di Indonesia kembali menunjukkan taringnya di kancah internasional. Sebuah perusahaan rintisan asal Kota Kembang yang fokus pada digitalisasi vokasi, baru saja mengumumkan perolehan pendanaan Seri B senilai Rp 200 miliar dari konsorsium investor global yang dipimpin oleh ventura asing asal Singapura dan Silicon Valley.
Investasi jumbo ini menjadi angin segar di tengah fenomena tech winter, sekaligus membuktikan bahwa inovasi digital yang menyasar sektor riil—seperti pendidikan kejuruan—memiliki daya pikat dan nilai valuasi yang tinggi di mata investor.
Revolusi Praktik Kerja Melalui Virtual Reality
Dana segar ini rencananya akan dialokasikan penuh untuk mematangkan ekspansi platform simulasi kerja berbasis Virtual Reality (VR) yang ditargetkan bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di seluruh Indonesia. Selama ini, salah satu tantangan terbesar pendidikan vokasi di tanah air adalah kesenjangan fasilitas lab praktik antara sekolah di kota besar dengan sekolah di daerah.
Melalui teknologi VR ini, keterbatasan alat fisik bukan lagi menjadi penghalang. Beberapa keunggulan operasional yang ditawarkan melalui program ini meliputi:
- Simulasi Dunia Nyata Tanpa Risiko: Siswa teknik alat berat, kelistrikan tegangan tinggi, hingga keperawatan dapat melakukan prosedur simulasi kerja yang kompleks dan berbahaya tanpa risiko kecelakaan kerja atau kerusakan aset fisik.
- Efisiensi Anggaran Pengadaan Alat: Sekolah tidak perlu membeli mesin manufaktur bernilai miliaran rupiah. Cukup dengan perangkat VR Headset, siswa dapat mengakses puluhan laboratorium virtual yang selalu diperbarui sesuai standar industri modern.
- Standardisasi Kompetensi Nasional: Seluruh modul dirancang menggunakan kurikulum berbasis industri terkini, memastikan siswa SMK di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) mendapatkan kualitas materi praktik yang sama persis dengan siswa di kota-kota besar.
Kolaborasi Strategis dengan Industri dan Pemerintah
CEO dari startup EdTech asal Bandung tersebut menyatakan bahwa target jangka pendek perusahaan adalah mendistribusikan perangkat keras dan lisensi perangkat lunak ke lebih dari 500 SMK percontohan di berbagai provinsi pada akhir tahun ini.
“Kami tidak berjalan sendiri. Pengembangan kurikulum simulasi VR ini melibatkan asosiasi profesi, praktisi industri, dan akademisi pendidikan vokasi agar kompetensi yang diuji di dalam dunia virtual benar-benar match (sesuai) dengan kebutuhan pasar kerja saat ini,” ujarnya dalam konferensi pers daring.
Langkah strategis ini juga mendapat apresiasi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Implementasi teknologi imersif dinilai sejalan dengan visi transformasi digital pendidikan nasional dalam mencetak lulusan vokasi yang adaptif, terampil, dan siap menghadapi tantangan industri berbasis digitalisasi global.

